Dimana Dia Berada
Sudah sejak lama saat ruang itu ditinggalkan penghuninya. Aku sempat berlama-lama berselancar di ruangannya. Ruang yang digunakan pemiliknya sebagai sebuah tempat berekspresi menorehkan semua kebisaannya dalam mengotak atik tampilan ruang tersebut sehingga sedap dipandang mata dan mengisinya dengan berbagai macam informasi yang berguna.Dari ruang tersebut pemiliknya sempat menyabet penghargaan dari kontes mempermak ruangan curahan hati pribadi. Aku tidak tahu persisnya apa. Tapi dari informasi yang mampir di telingaku, begitulah kira-kira. Sebuah kebanggaan dan pencapaian yang patut diacungi dua jempol.
Bagi ku pribadi, ruangan itu lah yang menghantarkan ku mengenalnya lebih dekat. Ada nuansa kesederhanaan, teduh, nyaman, dan sikap rendah hati terpancar jelas dari pribadi si pemilik. Ternyata apa yang ku tangkap tak berbeda dengan aslinya. Dia adalah sosok lelaki yang pernah ku kagumi, meski ia juga memiliki kekurangan layaknya manusia lainnya. Aku masih ingat betul bagaimana ia dengan bangganya menunjukkan kebolehannya mengubah ruangan tersebut. Dan aku sengaja menjawabnya datar, ”biasa aja pun”, sambil cekikikan dalam hati. Mungkin sampai hari ini dia tidak tahu bahwa aku sangat mengapresiasi apa yang ia lakukan. Selama waktu itu, entah berapa kali ia meng-make over ruangannya.
Dari ruangannya aku terinspirasi untuk menulis, membaca, bergaul dengan orang-orang yang ada di dunia maya, bahkan aku terdorong untuk mencetak prestasi seperti yang ia lakukan. Tentunya dari ruangan milikku, ruangan yang ia ciptakan untukku.
Namun sekarang, ruangan itu kusam. Tak terurus, tidak up to date, ketinggalan dari zaman yang terus berlari kencang. Informasi yang ada pun usang termakan usia. Ruangan itu ditinggal begitu saja oleh sang pemilik. Kemana dia? Kemana orang yang menginspirasi banyak orang dengan tulisannya. Dan aku tidak sendiri mencari-cari keberadaannya. Begitu banyak pesan dari teman-temannya atau sekedar pengagum keahliannya yang merasa kehilangan. Coverboy di dunia maya, begitu klaim mu. Aneh jika ia meninggalkan sesuatu yang sangat ia sayangi. Lebih dari apapun. Ia tahan berlama-lama dihadapan kotak ajaib. Lebih tahan ketimbang menghabiskan waktu dengan orang terkasihnya, mungkin.
Pertanyaan ku tentang keberadaannya ku harap tidak diinterpretasikan macam-macam. Apa yang pernah kami jalani dulu biarlah hanya jadi cerita masa lalu. Tapi jika aku boleh mengutip sebait syair lagu Lyla ”aku lah serpihan kisah masa lalumu/ yang sekedar ingin tahu keadaanmu//”. Ku harap kau baik-baik saja. Aku menunggu kehadiranmu di ruangan itu. Dengan segenap prestasi dan kebolehanmu.
